Yogyakarta, yang lebih dikenal sebagai Jogja, merupakan kota budaya di Indonesia yang kaya akan tradisi. Salah satu kekayaan utamanya adalah tarian khas Jogja, yang sebagian besar berasal dari lingkungan Keraton Yogyakarta. Tarian-tarian ini tidak hanya indah secara visual, tetapi juga sarat dengan filosofi Jawa, seperti kelembutan, kesopanan, serta hubungan mistis dengan alam dan leluhur.
Di era modern saat ini, tarian tradisional Jogja tetap lestari dan sering dipentaskan dalam berbagai acara, mulai dari ritual keraton hingga pertunjukan wisata seperti Ramayana Ballet di Candi Prambanan. Artikel ini akan membahas beberapa tarian khas Jogja yang paling ikonik, beserta sejarah, makna, dan keunikannya.
5 Tarian Khas Jogja :
1. Tari Serimpi

Tari Serimpi merupakan salah satu tarian klasik khas Jogja yang paling sakral. Tarian ini berasal dari masa Kerajaan Mataram pada era Sultan Agung (1613-1646). Dahulu, hanya dipentaskan di dalam keraton untuk ritual kenegaraan atau peringatan penobatan sultan. Tarian ini biasanya ditampilkan oleh empat penari wanita dengan gerakan lemah gemulai, lambat, dan anggun. Kostum tradisional berupa kain jarik, sanggul, serta aksesoris emas yang mencerminkan keanggunan perempuan Jawa. Tarian ini Melambangkan kesopanan, kelembutan, dan mimpi indah (berasal dari kata “impi”). Saat ini, Tari Serimpi sering digunakan untuk menyambut tamu penting atau sebagai atraksi wisata budaya di Jogja.
2. Tari Bedhaya

Tari Bedhaya dianggap sebagai tarian pusaka keraton Yogyakarta yang paling sakral. Salah satu variannya, Bedhaya Ketawang, memiliki hubungan mistis dengan Kanjeng Ratu Kidul, penguasa Laut Selatan. Tari Bedhaya ditampilkan oleh sembilan penari wanita dengan gerakan sangat halus dan simetris. Durasi pentas bisa mencapai berjam-jam. Tarian ini melambangkan harmoni antara manusia, alam, dan leluhur. Hanya dipentaskan pada acara khusus, seperti penobatan sultan.
3. Tari Golek Menak

Tari Golek Menak diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, terinspirasi dari wayang golek yang menceritakan kisah Menak (versi Jawa dari cerita Amir Hamzah). Ciri khas dari tari ini adalah gerakan lebih dinamis dibandingkan tarian klasik lainnya, dengan kostum berwarna cerah dan properti seperti boneka wayang. Tarian ini menggambarkan persatuan, nilai kepahlawanan, serta pelestarian cerita epik Islam-Jawa.
4. Tari Beksan Lawung

Tarian kelompok gagah yang ditarikan oleh penari pria, menggunakan properti tombak (lawung) berujung tumpul. Diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792), terinspirasi dari latihan watangan (adu ketangkasan prajurit berkuda). Gerakannya heroik, maskulin, dan dinamis, melambangkan keberanian, ketangkasan, serta semangat patriotik prajurit keraton. Sering dipentaskan pada acara kenegaraan atau pernikahan keraton.
5. Tari Golek Lambangsari

Tarian putri klasik tunggal gaya Yogyakarta yang anggun dan kemayu. Menggambarkan gadis remaja yang sedang bersolek atau merias diri saat memasuki masa dewasa. Nama “Lambangsari” merujuk pada iringan gending yang menyimbolkan penyatuan jiwa dan raga. Gerakannya halus dengan ragam seperti ukelan (menggulung rambut) dan atrap sumping (memasang anting), mencerminkan kelembutan dan kematangan seorang wanita Jawa.
Toko Batik dan Oleh-oleh Khas Jogja

Kalau kamu ingin menonton tarian klasik Jogja, kamu dapat mengunjungi Hamzah Batik yang berlokasi di lantai 3 Hamzah Batik setiap hari Minggu pukul 19.00 WIB . Hamzah Batik berlokasi di Malioboro depan pasar Beringharjo, Hamzah Batik menyediakan beragam oleh-oleh Jogja seperti batik, camilan, kerajinan, dan cinderamata khas Jogja.
Kunjungi toko Hamzah Batik di Malioboro depan pasar Bringharjo, atau pesan melalui WhatsApp di 08112544239 atau 08112544245. Untuk bantuan atau saran selama berbelanja, hubungi Customer Service di WA 081128293456 atau melalui email cs@hamzahbatik.co.id.

